**Curtis.** Cinta pertamaku, yang kini telah membunuh ayahku. “Kalau begitu, ayo, Roxana. Memohonlah.” Benarkah pria yang sekarang memainkan bilah pedang berlumuran darah di leherku ini adalah dirimu? “Siapa yang tahu? Kalau kau bersikap manis dengan wajah cantik itu, mungkin kau akan tetap hidup.” Bibir yang dulu tersenyum begitu lembut kini hanya melontarkan ejekan yang dingin kepada Roxana. Kegilaan yang mengerikan berkilat di mata yang dulu bersinar begitu jernih. Dan di tangan kecil yang hangat, yang dahulu begitu dikenalnya, kini tergenggam pedang dingin dan tajam yang seolah telah menjadi bagian dari tubuhnya. Bersimbah darah dan kotoran, Roxana menatapnya dengan tatapan kosong. **Curtis.** Pada akhirnya, dosa ayahku telah datang untuk menuntut nyawaku.